CEGAH DAN TANGANI SPEECH DELAY


Speech Delay atau keterlambatan bicara merupakan gangguan perkembangan yang sering dialami anak usia di bawah 7 tahun, yang bisa disebabkan oleh gangguan fisiologis (fungsi organ tubuh), patologis (penyakit), atau disebabkan kurangnya stimulus dari lingkungan (orangtua dan keluarga).
Gejalanya dapat dilihat dari kemampuan anak mengeluarkan kata, apakah sudah sesuai dengan tabel checklist indikator perkembangan untuk anak seusianya. Sebagai contoh, bayi usia 2bulan+ sudah mulai merespon dengan mengeluarkan suara “hoo” atau “hee”, usia 6 bulan+ sudah mulai mengoceh, dan sejak usia 1 tahun+ sudah dapat mengucapkan kata sederhana seperti mama, papa, air, dan sebagainya. Anak mulai merangkai kata menjadi kalimat (1 kalimat berisi 3-4 kata) setidaknya sejak usia 2 tahun, atau paling lambat 3 tahun.
Khusus untuk keterlambatan bicara yang disebabkan adanya gangguan fisiologis (seperti gangguan pendengaran, gangguan pada mulut, dan lain-lain)  ataupun patologis (misal, anak terkena serangan penyakit pada syaraf, dsb), hendaknya keluarga segera berkonsultasi dengan dokter untuk mendapat penanganan medis.
Sedangkan untuk keterlambatan bicara yang disebabkan kurang mendapat stimulus dari lingkungan, maka keluarga dapat melakukan 5 langkah berikut untuk mencegah ataupun menanganinya:
💝 MEMBERIKAN MPASI TEPAT SESUAI USIA
Memberikan Makanan Pendamping ASI dengan tekstur yang tepat sesuai usia akan mempengaruhi kemampuan verbal anak nantinya. Menurut panduan MPASI dari World Health Organization (WHO), sejak tiup lilin pertamanya anak sudah harus dapat berlatih memakan makanan keluarga.
Nah, untuk keluarga di Indonesia umumnya memakan nasi, maka anak pun sudah harus belajar mengunyah nasi (dimulai dari nasi lembut, hingga naik ke tekstur nasi keluarga). Selain itu, mengunyah finger food seperti sayuran dan buah serta biskuit juga penting untuk melatih kemampuan oral motorik anak, yang berpengaruh pada perkembangan kemampuan verbal anak (terutama pada pelafalan).
💝 MELATIH ANAK MENGHISAP DAN MENIUP
Masih dalam rangka menstimulus kemampuan oral motoriknya, selain memberikan makanan yang tepat anak juga dapat diajak untuk berlatih menghisap dan meniup.
Hentikan penggunaan botol dot dan gantilah dengan gelas sedotan untuk melatih kemampuan menghisap. Kemudian, Ayah Bunda dapat melatih kemampuan meniup anak dengan sering mengajaknya bermain balon sabun, ataupun meniup balon karet.
💝 RUTIN BERINTERAKSI DENGAN ANAK
Yang paling utama, sediakan waktu berkualitas yang cukup untuk selalu berinteraksi dengan anak. Hindari interaksi yang sifatnya hanya 1 arah seperti menyuruh mandi, mengajak makan, dan berbagai rutinitas harian lainnya.
Mulailah berinteraksi lebih “humanis” dengan anak-anak, seperti mengajaknya menceritakan kegiatan hari itu, atau menanyakan perasaannya tentang sesuatu. Ayah Bunda juga dapat mengajak anak membahas teman-teman atau keluarganya.
Interaksi berarti komunikasi yang terjadi 2 arah bolak-balik. Maka berinteraksi dengan anak akan meningkatkan kemampuan verbal dan komunikasinya.
💝 MEMBACAKAN BUKU
Membacakan buku dapat menambah tabungan kosakata anak dengan cepat dan dalam jumlah yang jauh lebih banyak daripada percakapan sehari-hari, karena dialog dan narasi yang ada di buku cerita memiliki kosakata yang banyak dan seringkali jarang didengar anak di kesehariannya.
Buatlah program membacakan buku secara rutin setiap hari, setidaknya 5-15 menit, dan tambahkan waktu sekitar 5-10 menit lagi untuk membahas buku yang baru saja dibaca tersebut dengan anak.
💝 MELAKUKAN DIET ‘SCREEN’
TV, gadget, atau perangkat elektronik berlayar lainnya hanya menawarkan interaksi 1 arah pada anak. Maka memberlakukan diet screen sangat diperlukan bila Ayah Bunda menginginkan anak terhindar ataupun ‘sembuh’ dari gangguan speech delay.
Sesuai rekomendasi Asosiasi Dokter Anak Amerika, batasan paparan dengan layar adalah sebagai berikut:
0-2 tahun : Tidak boleh sama sekali.

2-5 tahun : 1 jam (dipecah menajdi beberapa sesi dalam sehari).
Overall, seringlah mengajak anak berkegiatan bersama sambil terus mengajaknya mengobrol. berbagai pengalaman inderawi yang dialami anak akan mencegahnya dari gangguan speech delay, sekaligus turut menstimulus berbagai kemampuan senso-motorik anak lainnya.
Jika Ayah Bunda merasa membutuhkan saran atau bantuan profesional, maka mendatangi dokter spesialis anak, dokter rehab medik, ataupun psikolog akan menjadi keputusan yang tepat.
Ayo cegah dan lawan speech delay! 
😍😍😍😍😍😍😍

Advertisements

Author:

ig:@hikmahlagi|Twitter:@hikmahlagi1|Mahasiswi STIEM Cilacap|Calon jenazah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s